NOVEL KITA: KISS ON THE RAIN: By : Meyrist Situngkir “Kamu udah makan belum?”, nada suaraku berusaha menunjukkan ketegaran, lelaki itu pasti sedang terbaring ...
Serikat Rakyat Miskin Indonesia mengadakan demo didepan gedung Balaikota (07/03/2013), yang mengecam beberapa kebijakan pemprov Jakarta yang dinilai masih hanya sebatas wacana, serta ada beberapa kebijakan kebijakan Gubernur DKI Joko Widodo yang dinilai masih belum pada tempatnya yang jelas. SRMI yang mengaku ingin tetap mengupayakan penyelesaian penyelesaian terhadap problem problem mendasar yang terjadi di masyarakat Jakarta yang mana problem problem rakyat Jakarta hanya bisa diselesaikan apabila Gubernur benar benar mau serius memberi ruang yang luas kepada rakyat untuk terlibat berpartisipasi dalam hal ikut memperbincangkan pembuatan kebijakan, memiliki sarana control dan akses informasi rencana kebijakan. Inilah yang menjadi tuntutan utama Karnaval Suara Rakyat Miskin Jakarta; Bentuk Dewan Rakyat Pengawas Layanan Publik. Agar Dewan Rakyat bisa dibentuk maka SRMI memaparkan sejumlah data yang terkait dengan kondisi kehidupan tidak layak masyarakat miskin Jakarta, data data t...
Aku dan Ann Davis, Jurnalis Jakarta Globe Beberapa tahun terakhir, kasus konflik agraria terus meningkat. Badan Pertahanan Nasional (BPN) menyatakan, ada sekitar 8.000 konflik pertahanan belum terselesaikan. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menemukan sekitar 1.700 konflik agrarian, Sawit Watch menyebutkan sekitar 660 kasus diperkebunan sawit. Begitu juga Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyebutkan konflik agrarian sektor perikanan sepanjang 2012 melibatkan sekitar 60 nelayan. Kriminalisasi dan kekerasan terhadap petanipun terjadi mengiringi konflik konflik agrarian ini. Tahun lalu, sekitar 156 petani ditahan tanpa proses hukum yang benar, 55 orang mengalami luka luka dan penganiayaan, 25 petani tertembak, dan tiga orang tewas. “Respon pemerintah terhadap konflik dan kekerasan oleh aparat keamanan sangat lambat, tidak memadai dan tidak memuaskan”, kata Myrna A Safitri, Direktur Epistema Institute juga salah seorang penggagas petisi. Menyikapi masalah ini...
Ini adalah desaku, dimana kedua orang tuaku tinggal, desa ini namanya desa lumban batu, tempat yang melahirkan nafas nafas semangat dan kerja keras bagi kami. Orangtuaku masih tinggal disini, penghasilan utama penduduknya adalah bertani kopi dan coklat, kalau dulu mungkin masih zamannya marbawang, tapi seiring berjalannya waktu masyarakat mulai mencoba memanfaatkan lahan untuk ditanami kopi dan coklat, ternyata berhasil dan mungkin lebih menghasilkan... Berbeda dengan ketika dulu aku masih tinggal di Samosir, dimana ada istilah marsiadapari alias saling membantu di ladang satu dengan yang lain, kalau sekarang sistemnya lebih simpel dan ringan, ada kerja kelompok, seperti halnya gotong royong. Didesa lumban batu ini ada sekitar 10 kepala keluarga, yang sangat bersahaja dan saling menopang, itulah yang aku sukai dan selalu masih aku temui s...
Comments